Selanjutnya, peserta memperoleh pelatihan hospitality guest interaction yang mengajarkan dasar-dasar komunikasi sesuai standar industri perhotelan. Materi terakhir berupa pemberdayaan konten digital yang membantu peserta mempromosikan usaha mereka melalui platform digital.
General Manager HARRIS Hotel & Suites Nagoya Batam, Ryan Damanik, yang mewakili manajemen Ascott Regional Batam, mengatakan bahwa dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan bisnis tidak hanya diukur dari pencapaian ekonomi semata, tetapi juga dari dampak sosial yang mampu dihadirkan bagi komunitas sekitar.
“Di bawah payung komitmen global Ascott Cares, kami percaya bahwa kemajuan bisnis harus berjalan selaras dengan dampak sosial yang inklusif. Melalui edukasi teknologi digital dan hospitality, kami berharap dapat memberikan fondasi yang kuat bagi teman netra di Batam untuk lebih mandiri, berdaya secara ekonomi, dan mampu mengoptimalkan potensi usaha mereka di era digital,” ujar Ryan.
Ia menambahkan, sektor pariwisata dan perhotelan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, baik melalui pelatihan, kesempatan kerja, maupun pengembangan kewirausahaan.
Sementara itu, perwakilan PPDI Kota Batam, Fachrizal, S.E., menyambut positif program yang digagas Ascott Regional Batam. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan penyandang disabilitas saat ini, terutama dalam menghadapi transformasi digital yang semakin pesat.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian yang diberikan Ascott Regional Batam. Pelatihan pembuatan konten usaha dan pemanfaatan smartphone secara optimal merupakan bekal yang sangat berguna untuk meningkatkan produktivitas serta mendukung pengembangan usaha teman-teman disabilitas,” katanya.
Fachrizal menegaskan bahwa akses terhadap teknologi dan keterampilan digital menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi penyandang disabilitas. Oleh karena itu, kolaborasi antara dunia usaha dan komunitas dinilai sangat diperlukan untuk membuka lebih banyak peluang pemberdayaan.
Melalui kegiatan ini, Ascott Regional Batam tidak hanya menunjukkan kepedulian sosial, tetapi juga memperkuat peran sektor perhotelan sebagai motor penggerak ekonomi inklusif. Program tersebut menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok rentan, dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan industri dan pembangunan ekonomi daerah.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk terus berkarya, berwirausaha, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di tengah perkembangan era digital yang semakin kompetitif. (Iman Suryanto)





