Inflasi Indonesia Mei 2026 Menguat, Cabai Merah Jadi Penyumbang Terbesar

Harga bahan bakar rumah tangga, termasuk LPG dan BBM non-subsidi, memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara itu, harga bensin dan tarif angkutan udara masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen.

Kenaikan harga energi tersebut berdampak luas terhadap biaya distribusi barang dan jasa, sehingga berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap harga berbagai kebutuhan masyarakat.

Meski inflasi meningkat, sejumlah komoditas masih memberikan kontribusi deflasi yang membantu menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan.

BPS mencatat daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,06 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada Emas perhiasan, dan telur ayam ras.

Turunnya harga komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi yang berasal dari kelompok pangan dan energi.

Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, seluruh kelompok mengalami kenaikan harga pada Mei 2026. Komponen inti mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,14 persen.

Peningkatan inflasi inti dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah barang dan jasa, antara lain:
1. Minyak goreng
2. Telepon seluler
3. Laptop atau notebook
4. Pelumas mesin
5. Nasi dengan lauk
6. Jasa pemeliharaan dan servis kendaraan

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil 0,10 persen. Kenaikan pada kelompok ini dipicu oleh harga bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan solar.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil 0,04 persen, yang terutama berasal dari kenaikan harga cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau.

Dari sisi kewilayahan, BPS mencatat sebanyak 31 provinsi mengalami inflasi selama Mei 2026, sementara tujuh provinsi mengalami deflasi.

Provinsi dengan inflasi tertinggi adalah Maluku yang mencapai 0,93 persen. Sementara itu, deflasi terdalam terjadi di Gorontalo sebesar 0,96 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih terjadi secara luas di berbagai wilayah Indonesia, meskipun intensitasnya berbeda-beda tergantung kondisi pasokan, distribusi, dan karakteristik konsumsi daerah masing-masing.

Para ekonom menilai inflasi tahunan yang telah menembus level 3 persen perlu terus diwaspadai, terutama jika kenaikan harga pangan dan energi berlanjut pada semester kedua 2026. Stabilitas pasokan pangan, pengendalian distribusi, serta kebijakan energi yang terukur akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (***)

Pos terkait