BATAMKOTA.COM, BATAM – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kepulauan Riau, Moh. Bisri, menyoroti masih rendahnya tingkat literasi masyarakat di daerah tersebut.
Meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri berada di peringkat tiga nasional, kondisi itu belum berbanding lurus dengan capaian pembangunan literasi masyarakat (PLM).
Menurut Bisri, secara nasional indikator literasi tidak mengenal kategori tinggi atau sedang. “Yang ada hanya rendah dan sangat rendah. Dan posisi kita masih di kategori rendah, ini yang harus kita dorong bersama,” ujarnya saat ditemui KE Groups pada Kamis (4/6/2026) pagi.
Ia menjelaskan, salah satu langkah utama untuk meningkatkan literasi adalah dengan memperkuat fungsi perpustakaan, baik dari sisi sarana maupun pemanfaatannya.
Tidak hanya menambah jumlah buku, tetapi juga meningkatkan minat masyarakat untuk mengakses dan membaca.
“Masalah kita bukan hanya di koleksi, tapi juga pemanfaatan. Perpustakaan harus hidup, digunakan oleh masyarakat. Kalau di sekolah, berarti oleh siswa dan guru. Kalau di desa, ya oleh masyarakat desa,” jelasnya.
Saat ini, koleksi buku di perpustakaan daerah masih tergolong terbatas. DPK Kepri mencatat baru memiliki sekitar 20 ribu judul buku, sementara standar ideal mencapai 50 ribu judul. Kekurangan ini menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat literasi.
Untuk mengatasi hal tersebut, DPK Kepri membuka peluang partisipasi masyarakat. Sumbangan buku dari berbagai pihak, termasuk pelajar dan penerbit, menjadi bagian penting dalam menambah koleksi.
“Kami sangat terbuka. Bahkan ada siswa SMA yang menyumbangkan koleksi novel mereka. Ini sangat membantu,” kata Bisri.
Selain itu, DPK juga mendorong hadirnya “pojok baca” di berbagai tempat, mulai dari instansi, ruang publik, hingga rumah tangga. Langkah ini dinilai penting untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.
“Kita ingin buku dekat dengan masyarakat. Di rumah pun harus ada pojok baca. Dari situ anak-anak akan mulai mengenal dan mencintai buku,” tambahnya.
Bisri optimistis, jika masyarakat mulai terbiasa memegang dan membaca buku, maka minat baca akan tumbuh secara alami. “Kuncinya di kebiasaan. Begitu orang mulai membaca, biasanya akan ingin membaca lagi,” tutupnya. (Iman Suryanto)





