Inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah telah mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan oleh The Fed dalam waktu dekat. Kondisi tersebut turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS (DXY).
Namun, risiko terhadap inflasi global masih tetap ada. Ketegangan geopolitik dan volatilitas harga minyak dinilai berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi.
“Namun, ketegangan geopolitik dan volatilitas harga minyak terus menimbulkan risiko kenaikan inflasi,” jelasnya.
Di dalam negeri, Indonesia saat ini menghadapi tantangan inflasi yang berasal dari sisi pasokan. Kondisi tersebut terjadi di tengah melemahnya aktivitas ekonomi dan permintaan domestik.
Indeks PMI manufaktur terus mengalami tekanan. Namun, di sisi lain, produsen mulai meneruskan kenaikan biaya bahan baku, transportasi, dan energi ke harga jual.






