


BATAMKOTA.COM, RUSIA – Langkah agresif Indonesia dalam memburu investasi global semakin terlihat. Himpunan Kawasan Industri (HKI) resmi menandatangani kerja sama strategis dengan asosiasi kawasan industri Rusia dalam forum internasional INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Selasa (7/7/2026).
Ketua Umum HKI, Akhmad Maruf Maulana, tak hanya hadir sebagai pembicara dalam “Business Forum Industrial Dialog”, tetapi juga membawa misi besar: memperluas jejaring investasi Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Dalam paparannya, ia menegaskan Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan pemain strategis di kawasan ASEAN. Stabilitas ekonomi, pasar domestik besar, hingga posisi geografis yang menguntungkan menjadi daya tarik utama bagi investor asing.
Namun, langkah paling konkret terlihat dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara HKI dan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of Russia.
MoU tersebut diteken bersama CEO asosiasi Rusia, Labudin Mikhail, serta disaksikan Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Industri Rusia Anton Alikhanov.
Kesepakatan ini membuka peluang kerja sama luas, mulai dari promosi investasi, pertukaran informasi bisnis, pengembangan proyek industri bersama, hingga peningkatan kapasitas kawasan industri di kedua negara.
Menariknya, Akhmad Maruf mengungkapkan bahwa langkah ekspansi global HKI tidak berhenti di Rusia. Setelah menjajaki pasar Inggris dan Rusia, pihaknya akan melanjutkan penetrasi ke China.
“Setelah dari UK dan Rusia, kami akan lanjut ke China. Besok perusahaan kami juga akan melakukan joint venture dengan perusahaan Rusia. Intinya kami sujud syukur dan kami mohon dukungan dari pemerintah untuk terus melakukan promosi investasi dan menarik investasi masuk ke Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan ini mempertegas bahwa kerja sama dengan Rusia bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi besar untuk mempercepat arus investasi asing ke Indonesia.
Di tengah perlambatan ekonomi global, langkah HKI ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia mulai lebih agresif “menjemput bola” investor internasional.
Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar terealisasi menjadi investasi konkret yang mampu mendorong pertumbuhan kawasan industri nasional dan menciptakan lapangan kerja baru. (Iman Suryanto)





