BATAMKOTA.COM, JAKARTA — Pemerintah mulai mempersiapkan penerapan mandatori Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur yang dijadwalkan mulai berlaku pada 2027. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi energi di sektor penerbangan, meski masih menghadapi sejumlah tantangan seperti kesiapan pasokan bahan baku dan kapasitas produksi nasional.
Sebagai langkah awal, PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.
Kolaborasi tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari identifikasi potensi bahan baku, pengembangan teknologi produksi, hingga dukungan terhadap penyusunan kebijakan yang dibutuhkan guna mempercepat implementasi bioavtur di Tanah Air.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun fondasi industri SAF nasional yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di sektor energi hijau.
“Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan,” ujar Simon dalam keterangan resminya, Jumat (10/7/2026).






