BATAMKOTA.COM, JAKARTA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong percepatan hilirisasi industri farmasi nasional sebagai salah satu strategi untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%. Menurutnya, besarnya belanja kesehatan nasional selama ini belum memberikan dampak maksimal terhadap perekonomian karena masih tingginya ketergantungan pada produk impor.
Budi mengungkapkan bahwa belanja kesehatan Indonesia secara historis telah berada di atas 10% setiap tahun, bahkan mencapai sekitar 16% pada tahun lalu. Namun, sebagian besar anggaran tersebut masih digunakan untuk membeli obat-obatan, bahan baku farmasi, serta alat kesehatan dari luar negeri sehingga manfaat ekonomi berupa nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja lebih banyak dinikmati negara lain.
“Kita berdua [bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan] sangat percaya bahwa target 8% itu harus mati-matian dikejar sesegera mungkin. Karena kalau tidak, kita kehilangan window of opportunity pada saat puncak bonus demografi dan kesempatan menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita GNI 14.000 dolar AS,” ujar Budi dalam konferensi pers di sela acara Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response (PPR), Rabu (24/6/2026).
Menurut Budi, salah satu cara agar belanja kesehatan dapat berkontribusi langsung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah dengan membangun rantai pasok industri farmasi secara utuh di dalam negeri, mulai dari bahan baku hingga produk akhir.
Ia mencontohkan produksi parasetamol yang saat ini belum sepenuhnya terintegrasi. Indonesia telah mampu memproduksi benzena sebagai bahan dasar, namun proses hilirisasi lanjutan menjadi cumene, fenol, hingga parasetamol masih belum tersedia secara lengkap di dalam negeri.





