Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai kenaikan cadangan devisa lebih mencerminkan hasil kebijakan stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dibandingkan sebagai sinyal awal pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan dan imbal hasil SRBI yang lebih menarik berhasil mendorong masuknya investor asing ke instrumen berdenominasi rupiah. Namun, mayoritas dana yang masuk masih terkonsentrasi pada aset berimbal hasil tinggi dengan jangka waktu pendek.
“Saya melihat pembalikan cadangan devisa pada Juni masih lebih bersifat stabilisasi sementara daripada awal tren pemulihan jangka panjang,” ujar Josua.
Ia menambahkan, pemulihan cadangan devisa akan lebih kuat apabila surplus neraca perdagangan dapat dipertahankan secara konsisten, aliran modal asing semakin terdiversifikasi ke instrumen seperti SBN dan investasi langsung, serta kebutuhan intervensi BI di pasar valuta asing menurun seiring semakin stabilnya nilai tukar rupiah.
Menurut Josua, selama arus modal masih bergantung pada instrumen SRBI, cadangan devisa memang dapat tetap terjaga. Namun, kondisi tersebut juga membuat cadangan devisa rentan terhadap pembalikan arus modal apabila sentimen pasar global kembali berubah.
SUMBER: KONTAN






