BATAMKOTA.COM, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap Iran dan kembali memberlakukan sanksi terhadap penjualan minyak mentah negara tersebut. Perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata antara kedua negara mulai runtuh sehingga berpotensi mengganggu pasokan energi global, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,38 atau 1,9% menjadi US$75,54 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$1,37 atau 1,9% ke level US$71,81 per barel pada pukul 01.28 GMT.
Kenaikan tersebut melanjutkan reli pada perdagangan Selasa (7/7/2026), ketika kedua kontrak acuan sempat melonjak sekitar 3%. Penguatan terjadi setelah pemerintah AS mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak mentah Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan udara yang dilancarkan Washington merupakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute paling strategis bagi distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.
Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan insiden terbaru kembali mengingatkan pelaku pasar bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rentan.






