“Situasi ini menjadi pengingat bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rapuh. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan ekspektasi sebelumnya bahwa pasar akan dibanjiri pasokan minyak sehingga memicu posisi jual (short position) dalam jumlah besar,” ujarnya.
Menurut Kavonic, apabila ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berada di bawah 50% dibandingkan kondisi sebelum perang, keterbatasan pasokan minyak berpotensi menopang harga minyak di level yang lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada bulan lalu. Saat itu, banyak investor memperkirakan pasokan minyak dari Timur Tengah akan kembali normal sehingga mendorong aksi jual di pasar minyak.
Namun, optimisme tersebut berubah setelah serangkaian insiden terbaru di Selat Hormuz. Meski Iran belum mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal komersial, Qatar menuding Teheran berada di balik serangan tersebut, termasuk terhadap kapal tanker gas alam cair (LNG) Al Rekayyat milik Qatar yang dilaporkan mengalami kebakaran di ruang mesin akibat serangan drone.
Selain itu, sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang diyakini merupakan supertanker Wedyan juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan dekat Oman. Hingga kini, penyebab kerusakan kapal tersebut masih dalam penyelidikan.






