Sementara itu, melalui metode PM-AAS, biaya produksi meningkat menjadi sekitar Rp15,17 juta per hektare, namun produktivitas melonjak hingga 12,4 ton per hektare. Dengan hasil tersebut, keuntungan petani mencapai sekitar Rp65,43 juta per musim tanam, atau setara Rp16,36 juta per bulan.
Peningkatan tersebut juga tercermin dari rasio keuntungan (Benefit Cost Ratio/B/C Ratio) yang naik dari 1,60 menjadi 4,31.
“Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar,” jelas Amran.
Mentan menjelaskan, PM-AAS merupakan hasil pengembangan yang menggabungkan metode tanam Arkansas dengan sistem jajar legowo. Kombinasi tersebut meningkatkan populasi tanaman sekaligus mengoptimalkan pencahayaan sehingga proses fotosintesis berlangsung lebih baik.
“Prinsipnya adalah penggabungan metode Arkansas dengan jajar legowo. Cahaya matahari masuk lebih optimal sehingga fotosintesis lebih baik, malai lebih bagus. Populasi tanaman yang sebelumnya sekitar 320 ribu sampai 360 ribu batang per hektare sekarang meningkat menjadi sekitar 1 juta batang. Itu yang membuat produksinya melonjak,” katanya.





