S&P Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen hingga 2029, Ketidakpastian Kebijakan Jadi Tantangan

Dalam laporannya, S&P mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama musim libur serta percepatan realisasi belanja pemerintah.

Meski sektor riil menunjukkan kinerja positif, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar keuangan. Sepanjang semester pertama 2026, indeks saham acuan Indonesia tercatat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar, sementara nilai tukar rupiah melemah sekitar 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Menurut S&P, perbedaan kinerja antara sektor riil dan pasar keuangan mencerminkan meningkatnya ketidakpastian, baik yang berasal dari faktor global maupun domestik.

Dari sisi eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz dinilai menjadi risiko tambahan bagi perekonomian Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah dan produk olahannya.

Walaupun Indonesia masih memperoleh manfaat dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, bauksit, dan tembaga, S&P menilai kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan harga minyak dunia. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia mulai mengalami pelemahan sejak Maret 2026 karena meningkatnya impor energi.

Pos terkait